Sabtu, 06 April 2019

Alat Baru Pencari Alien di Luar Angkasa

Alat Baru Pencari Alien di Luar Angkasa

Pencarian makhluk luar angkasa terus dilakukan para peneliti hingga saat ini. Bahkan, seorang peneliti terkemuka dari Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) Institute baru saja meluncurkan alat baru untuk membantu para ilmuwan melacak alien.

Peneliti itu adalah Jill Tarter, yang terinspirasi dari karakter fiksi Ellie Arroway dalam novel "Contact" karya Carl Sagan.

Tarter mengembangkan alat web terbaru yang disebut Technosearch. Basis data yang digunakan adalah semua pencarian alien oleh SETI yang dipublikasikan sejak tahun 1960.


Dalam peluncuran alat baru ini, juru bicara SETI berharap seluruh komunitas akan bekerja sama menjaga technosearch selalu akurat dan mutakhir.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama, Tarter juga mengungkapkan bagaimana dia memulai proyek ini.

"Saya mulai menyimpan arsip penelitian ini ketika saya masih menjadi mahasiswa pascasarjana," ungkap Tarter dikutip dari Live Science, Minggu (13/01/2019).


"Beberapa makalah asli dipresentasikan di konferensi atau terbit di jurnal tidak jelas yang sulit diakses oleh pendatang baru di bidang SETI. Saya senang karena kami sekarang memiliki alat yang dapat digunakan oleh seluruh komunitas dan metodologi untuk menjaganya saat ini," imbuhnya.

Sebagai informasi, Technosearch dikembangkan oleh SETI bekerja sama dengan Research Experience for Undergraduate (REU). REU sendiri bekerja di bawah Jason Wright, peneloti bintang dan planet ekstrasurya di Penn State University.
Andrew Gracia, salah satu mantan mahasiswa REU, mengatakan bahwa alat baru itu akan memainkan peran besar dalam SETI.

"Saya menjadi yakin bahwa Technosearch akan menjadi instrumen penting bagi para astronom dan amatir yang tertarik menjelajahi kosmos untuk indikasi peradaban teknologi lainnya," kata Gracia.

Technosearch sendiri telah dirilis pada Rabu (09/01/2019) pada pertemuan the american Astronomical Society ke-223.

Selasa, 02 April 2019

Kisah Sebenarnya dari Foto Piring Terbang dari NASA

Kisah Sebenarnya dari Foto Piring Terbang dari NASA

Mendekati akhir tahun lalu, Badan Antariksa AS ( NASA) mengunggah sebuah foto mengejutkan. Gambar tersebut adalah sebuah piring terbang yang hancur.

"Piring terbang dari luar angkasa hancur mendarat di gurun Utah setelah dilacak ole radar dan dikejar dengan helikopter," tulis deskripsi foto tersebut di situs Astronomy Picture of the Day.

NASA tidak mengisyaratkan adanya kunjungan alien ke Bumi dengan foto tersebut. Itu karena memang piring terbang yang setengah terkubur tersebut punya cerita lain.

Bukan Alien

Piring terbang itu sebenarnya adalah kapsul kembali pesawat ruang angkasa Genesis. Seharusnya, benda itu memang tidak mendarat dengan cara yang brutal seperti yang terjadi.

Misi Genesis sendiri diluncurkan pada 8 Agustus 2001. Ia adalah misi ambisius NASA untuk mengirim pesawat antariksa ke angin matahari demi mengumpulkan sampel untuk dibawa Pulang ke Bumi.

Misi ini mengumpulkan data tentang komposisi partikel bermuatan yang mengalir dari korona Matahari. Nantinya, data tersebut digunakan oleh para peneliti untuk menentukan sacara tepat komposisi bintang dan unsur-unsur di sekitarnya.

Demi tujuan tersebut, misi Genesis dilengkapi dengan kapsul sampel berisi tabung bahan angin matahari.

Sampel itu didapatkan setelah dua tahun Genesis mengorbit di Lagrange 1, sebuah lokasi di mana gravitasi Bumi dan Matahari seimbang.

Pesawat itu kemudian menangkap angin matahari dengan menggunakan serangkaian array kolektor yang berisi bahan kemurnian tinggi seperti aluminium, safir, silikon, dan emas.

"Bahan-bahan yang kami gunakan dalam susunak kolektor Genesis harus cukup kuat secara fisik untuk diluncurkan tanpa rusak, menyimpan sampel ketika terpapar panas Matahari, dan cukup murni agar kami dapat menganalisis elemen angin matahari," ungkap Amy Jurewics, salah satu peneliti yang terlibat dikutip dari Science Alert, Sabtu (12/01/2019).

Kecelakaan Piring Terbang

Sekitar 8 September 2004, kapsul sampel dan susunannya yang berharga itu memasuki orbit Bumi kembali.

Sayangnya, kapsul berupa piring terbang itu menabrak tanah di Gurun Utah dengan kecapat diperkirakan mencapai 310 km/jam.


Padahal seharusnya, ketika memasuki atmosfer Bumi, sebuah mortir di atas kapsul itu akan meledak dan melepaskan parasut. Dengan begitu, seharusnya, kapsul bergerak lebih lambat dan lebih stabil.

Dalam foto kecelakaan itu, kita bisa melihat ada beberapa helikopter di sekitar piring terbang. Sebelumnya, mereka bersiap mengambil kapsul di udara dan langsung mengangkutnya ke laboratorium untuk menghindari kontaminasi sampel.

Namun sayang, rencana itu tak bisa dilaksanakan dengan mulus.

Biang Keladi

Setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh, biang keladi dari masalah ini adalah satu set sensor. Sensor itu bahkan hanya seukuran ujung pensil.

Perangkat kecil ini harusnya mendeteksi peningkatan kekuatan gravitasi ketika memasuki Bumi dan memicu pelepasan parasut.

Pada akhirnya, kecelakaan ini menyebabkan kerusakan parah dan mencemari muatan berharga di dalamnya.

Beruntungnya, misi Genesis tidak sepenuhnya hancur. Beberapa bahan kolektor yang kokoh bertahan dan para peneliti berhasil membersihkan permukaannya tanpa mengganggu sampel di dalamnya.

Bahkan, dalam tiga tahun serangkaian makalah terbit berkat piring terbang itu.
"Matahari menampung lebih dari 99 persen bahan yang saat ini ada di Tata Surya kita, jadi itu ide yang baik untuk mengenalnya lebih baik lagi," ungkap Don Burnett, penyelidik utama Genesis.

"Walaupun itu lebih menantang dari yang diharapkan, kami telah menjawab beberapa pertanyaan penting, dan seperti semua yang berhasil, menghasilkan lebih banyak lagi (pengetahuan)," imbuh Burnett.